Analisis wacana merupakan istilah umum yang banyak
dipakai dari berbagai disiplin ilmu dan dengan berbagai paradigma/pandangan.Ada
tiga pandangan mengenai bahasa, yakni sebagai berikut.
1.
Pandangan
pertama, diwakili oleh kaum positivisme-empiris/strukturalis menyatakan bahwa
bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya.
Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan
melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala. Pernyataan yang logis, sintaksis
dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Salah satu ciri dari pemikiran
tersebut adalah pemisahan antara pemikiran dan realitas. Dalam kaitannya dengan
analisis wacana, konsekuensi logis dari pemahaman tersebut adalah orang tidak
perlu memahami makna subjektif atau nilai yang mendasari pernyataannya. Sebab,
yang terpenting adalah apakah pernyataan itu dilontarkan secara benar menurut
kaidah sintaksis dan semantik. Oleh karena itu, kebenaran sintaksis adalah
bidang utama dari aliran tersebut tentang wacana. Analisis wacana dimaksudkan
untuk menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa dan pengertian bersama. Wacana
dapat diukur dengan pertimbangan kebenaran/ketidakbenaran sintaksis dan
semantik (Rosidi, 2003:8).
2.
Pandangan kedua,
yang diwakili oleh kaum konstruktivisme/ fungsionalis. Aliran ini dipengaruhi
oleh fenomenologi yang menolak pandangan positivism-empiris tentang subjek dan
objek bahasa dipisahkan. Aliran konstruktivisme memandang bahasa tidak lagi
dipahami sebagai realitas objek belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai
penyampai pernyataan. Konstruktivisme memandang justru subjek sebagai sentral
utama dalam kegiatan wacana. Bahasa dipahami sebagai pernyataan yang dihidupkan
dengan tujuan tertentu. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan
penciptaan makna, yaitu tindakan pembentukan diri atau pengungkapan oleh
penulis atau penutur.
3.
Pandangan
kritis, pandangan ini mengoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang
sensitive pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara
historis maupun institusional. Analisis wacana dalam pandangan ini menekankan
pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi
makna. Bahasa dalam pandangan kritis dipahami sebagai representai yang berperan
dalam membentuk subjek dan tema-tema tertentu, serta strategi di dalamnya.
Karena memakai respektif kritis, analisis wacan kategori ketiga ini juga
disebut sebagai analisis wacana kritis (Critical
Discourse Analysis / CDA). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana
dalam kategori yang pertama atau kedua (Discourse
Analysis). (Eriyanto, 2001: 6-7)
Berdasarkan ketiga
pandangan tersebut, David 1994 (dalam Arifin, 2012: 10) mengklasifikasikan
menjadi dua paradigma, yaitu paradigma formal dan paradigma fungsional sebagai
berikut :
|
STRUKTURAL
|
FUNGSIONAL
|
|
Struktur bahasa (kode) sebagai tata
bahasa.
|
Struktur tuturan sebagai cara berbicara.
|
|
Hanya sebagai alat yang dapat berkorelasi apa yang dianalisis sebagai kode
mendahului analisis penggunaan
|
Analisis penggunaan didahulukan, kemudian analisis kode.
|
|
Fungsi referensi semantik dipakai sebagai normanya
|
Pengorganisasian fitur-fitur tambahan memperhatikan kode dan digunakan
secara integral.
|
|
Element struktur dianalisis (perspektif historis atau universal).
|
Stilistik dan fungsi sosial.
|
|
Fungsi (adaptasi), ada keseimbanagan bahasa; semua bahasa pada
hakikatnya sama.
|
Elemen dan strukturnya sebagai pendekatan etnografis
|
|
Kode bersifat homogen dan komunitas yang seragam.
|
Fungsi (adaptasi), bahasa bervariasi, gaya, aktual, tidak semuanya
sama.
|
|
|
Komunitas tuturan sebagai gaya bahasa.
|
A. Strategi
dalam Analisis Wacana
Dalam pokok
bahsan ini, Jorgensen dan Phillips (2007: 267-270) menyajikan empat strategi
yang bisa digunakan dalam analisis wacana dengan berbagai pendekatan.Keempat
strategi tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Pembandingan
Yakni
membandingkan dengan teks-teks lain secara teoritis didasarkan pada sudut
pandangan strukturalis.
2.
Subtitusi
Yakni
bentuk pembandingan analis menciptakan teks sebagai pembandingnya.Dalam
strategi ini kita bergerak kea rah berlawanan dengan menyisipkan beberapa kata
yang dipilih ke dalam teks, kita mendapatkan kesan bagaimana kata-kata itu
mengubah makna teks dan dengan demikian kita memperoleh kesan bagaimana
kata-kata yang benar dipilih itu menciptakan makna-makna tertentu dalam teks
bersangkutan.
3.
Membesar-besarkan
sesuatu yang terperinci
Kita bisa
membesar-besarkan sesuatu yang terperinci tersebut dan kemudian menanyakan
kondisi-kondisi apa yang diperlukan agar ciri tersebut masuk akal dan tentang
interpretasi apa yang sekiranya secara keseluruhan cocok dengan ciri tersebut.
4.
Vokalitas
ganda
Menggambarkan
logika kewacanaan atau suara-suara yang berbeda dalam teks.Strategi ini
didasarkan pada premis analisis wacana tentang antartekstualitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar