A.
Jenis Wacana Berdasarkan Media
Penyampaiannya ( menurut Tarigan)
a. Wacana Lisan
Jauh sebelum manusia mengenal
huruf,bahasa telah digunakan oleh manusia.manusia memakai bahasa lisan dalam
berkomunikasi.bahasa lisan menjadi bahasa yang utama dalam hidup manusia karena
lebih dahulu dikenal dan digunakan oleh manusia dari pada bahasa tulis.karena
itu tidaklah mengherankan bahwa sebagian besar manusia masih berada dalam
budaya lisan.
Karena sering digunakan,bahasa lisan
memiliki ciri – ciri yang berlainan dengan bahasa tulis .Salah satunya yang
menonjol adalah sering terjadi penghilangan bagian – bagian tertentu,yang dapat
menghilangkan pengertian wacana ,jika salah satu partisipanya ( pembicara dan
pendengar ) belum terbiasa seperti pada contoh berikut :
wati : “Nunung, ke mana?”
Nunung : “Biasa”.
Pada wacana diatas wati dapat
mengetahui bahwa nunung akan pergi,misalnya kewarung untuk makan roti panggang
,karena pada saat seperti ini kebiasaan nunung makan roti panggang diwarung x .
Bagi orang lain yang belum mengenal kebiasaan nunung,wacana diatas tidak dapat
dimengerti . Ia tidak dapat menarik kesimpulan yang tepat .Pertama,Karena ia
mengetahui bahwa tidak ada lokasi yang bernama “Biasa”tidak mengacu kepada suatu tempat yang pasti dan kedua,ia belum mengenal kebiasaan atau
memiliki “Pengetahuan yang telah diketahui bersama “ ( Common ground ) dengan
nunung.
Manusia lebih sering menggunakan
wacana lisan yang pendek .Satuan – satuan atau unit – unitnya pun pendek dan
kadang tidak gramatikal[1], seperti
percakapan nunung dan wati diatas.Jarang ditemukan wacana lisan yang panjang
.Kalaupun ada,biasanya maknanya terus menerus diulang,seperti dalam
mengungkapkan kekesalan hati.
Dalam mengutarakan maksud dengan
wacana lisan,tidak hanya unsur bahasa tetapi juga digunakan gerakan
tubuh,pandangan mata ,dan lain – lain,yang turut memberi makna wacana itu .
Jika pengutaraan maksud memakan
waktu yang cukup lama,diperlukan adanya daya simak yang tinggi dari partisipan
lainya.
Contoh
: perkuliahan memerlukan perhatian
dan daya simak mahasiswa untuk menangkap inti perkuliahan yang diujarkan
dosen.Karena konsentrasi dan daya simak seseorang tidak dapat bertahan terus
menerus dalam waktu yang lama,maka perkuliahan menggunakan juga alat untuk
wacana tulis agar inti materi perkuliahan dapat diingat oleh mahasiswa.
Kelemahan wacana lisan adalah
kesulitan dalam mengulang kembali wacana dengan sama tepat seperti yang
pertama.Kelemahan wacana ini jga menyebabkan wacana lisan,sebagai bahan
bukti,dalam bidang hukum memiliki kedudukan yang paling lemah disbanding wacana
tulis.
Dengan uraian diatas dapat dibuat
ciri – ciri wacana lisan sebagai berikut :
a. Wacana lisan memerlukan daya simak yang tinggi agar
interaksi tidak terputus
b. Wacana lisan sulit diulang,dalam arti mengulang hal yang
sama dengan ujaran pertama
c. Wacana lisan dapat dilengkapi dengan gerakan anggota tubuh
untuk memperjelas makna yang dimaksud
d. Wacana lisan menyatukan partisipanya dalam satu situasi dan
konteks yang sama.
e. Wacana lisan biasanya lebih pendek daripada wacana tulis
f. Wacana lisan juga melibatkan unsure kebiasaan atau
pengetahuan yang telah diketahui bersama (common ground) ,yang ada pada satu
keluarga atau kelompok dan
g. Wacana lisan sering melibatkan partisipanya secara langsung.
b.
Wacana Tulis
Wacana tulis mulai dikenal setelah
ditemukan huruf,Huruf dibuat untuk mengganti peran bunyi bahasa sehingga
biasanya orang mengatakan bahwa huruf adalah lambang bunyi.Huruf – huruf itu
dipelajari manusia dan kemudian digunakan untuk menyampaikan informasi kepada
orang lain yang tinggal berjauhan.
Meskipun banyak wacana tulis yang
panjang,ada juga wacana tulis yang pendek,wacana seperti ini banyak dijumpai di
iklan ,distasiun kereta api ,diswalayan ,dan dijalan .
Contoh:
a. Pintu keluar
b. Semua kopi hitam sama,soal rasa ayam merak
c. Awas! tegangan tinggi !
d. Kocok dulu sebelum diminum
Wacana tulis yang pendek, seperti
diatas sangat mirip dengan wacana lisan,seperti penghilangan bagian tertentu
dari wacana itu,penyatuan saat dan tempat yang sama bagi penulis dan
pembaca,dan penggunaan bentuk – bentuk informal.
Dari uraian diatas dapat dibuat ciri
–ciri sebagai berikut :
a. Wacana
tulis biasanya panjang dan menggunakan bentuk bahasa yang baku
b. Wacana
tulis dapat dilihat kembali tanpa ada perbedaan unit – unit kebahasanya
c. Wacana
tulis biasanya mempunyai unsur kebahasan yang lengkap ( Tidak ada penghilangan
bagian – bagianya).
B.
Jenis Wacana Berdasarkan Jumlah
Penutur
1.
Wacana
Monolog
Adalah wacana yang disampaikan oleh
seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara
langsung. Umumnya, wacana monolog tidak
menghendaki dan tidak menyediakan alokasi waktu terhadap respon pendengar atau
pembacanya. Wacana monolog bersifat searah dan termasuk komunikasi tidak
interaktif (noninteractive
communication). Wacana monolog terjadi seperti pada orasi ilmiah, khotbah,
dan penyampaian visi dan misi. Pada
kenyataannya, dalam suatu orasi, ceramah, atau pidato tertentu, penutur secara
improvisasi kadang-kadang justru mencoba berinteraksi dengan pendengarnya. Cara
yang dipakai, misalnya dengan melontarkan pertanyaan, “Bagaimakah sikap kita
untuk andil dalam pembangunan pendidikan bangsa ini?”. Dalam konteks seperti
ini, wacana monolog berubah menjadi wacana semi-monolog.
Contoh :
(1) Siapa bilang remaja Indonesia cengeng? (2) banyak yang berprestasi di forum Internasional,
walaupun minim fasilitas. (3) Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir kita
membawa pulang puluhan medali dalam berbagai olimpiade dunia. (4) ada
matematika, fisika, biologi, kimia, juga astronomi, komputer.
1) Kalimat nomor 2 merupakan jawaban
terhadap pertanyaan kalimat nomor
1 yang menyanggah bahwa remaja Indonesia
tidak cengkeng.
2) kalimat nomor 3 merupakan pembuktian
dari kalimat nomor 2.
3) kalimat ke 4 merupakan contoh-contoh
yang menguatkan kalimat nomor 2 dan 3.
2.
Wacana
Dialog
Adalah percakapan yang dilakukan
oleh dua orang secara langsung. Wacana dialog bersifat dua arah, dan
masing-masing partisipan secara aktif ikut berperan didalam komunikasi,
sehingga disebut komunikasi interaktif (interactive communication). Wacana
dialog terjadi seperti pada peristiwa diskusi, musyawarah, pembicaraan telepon,
Tanya jawab, dan teks drama.
Perhatikan
contoh wacana dialog berikut ini.
SUNSLIK GINGSENG
C
: Betulkan ?
W : Iya
C
: Aku paling sebel deh kalau cowokku naksir cewek yang lain.
W : Cowokku dulu juga gitu. Dia itu
suka melirik cewek yang rambutnya panjang. Padahal dulu aku takut manjangin
rambut. Takut patah-patah dan rontok. Sunslik gingseng membuat rambut semakin
kuat tumbuh sepanjang yang kamu suka.
C
: Sekarang rambut kamu sudah panjang ?
W : Ya
C
: Berarti cowok kamu sudah tidak lirik-lirik lagi dong ?
W : Cowokku si ndak, cowok-cowok
yang lain pada lirik aku
Wacana
tersebut merupakan wacana dialog antara dua orang gadis. Mereka sedang berdialog
mengenai rambut. Setelah menggunakan sunslik gingseng rambut menjadi kuat dan
tidak rontok.
3.
Wacana
Polilog
Adalah pembicaraan atau percakapan
yang melibatkan partisipan pembicaraan lebih dari dua orang penutur. Partisipan
yang terlibat dalam pembicaraan semuanya berperan aktif dan langsung dalam
komunikasi. Wacana polilog terjadi seperti pada peristiwa musyawarah, diskusi,
atau debat, dan teks drama.
Perhatikan contoh wacana polilog yang dikutip dari teks
drama berjudul Orkes Madun I karya
Arifin C Noer berikut ini.
Konteks : kehadiran Waska disambut gembira oleh komunitasnya.
Waska dijadikan tempat mengadu bagi Tarkeni
yang sedang berselisih dengan Madekur, suaminya.
WASKA : Peran Waska akan tampil memberi ruh pada jasadku
yang lunglai kecapean yang kosong yang gosong yang bagai kepompong.
KOOR : Uuuuuuuuuuu
WASKA : Langit hanya berisi angin hari itu dan
warna hitam Tumpah diseanteronya dimana – mana dan aku Waska sedang minum air
kelapa.
TARKENI
: Lalu aku Tarkeni datang menangis bersujud di kaki Waska mengadukan ihwal
duka.
WASKA : Ada apa anakku? Kenapa menangis seperti itu?
TARKENI : Sakit kepalaku sampai ke kalbu lantaran
dipukul suamiku.
WASKA : Madekur!!!!!
MADEKUR
: Madekur luka hatinya disobek – sobek cemburu oleh cemburu buta.
WASKA : Yak karena tidak matang
jiwanya.
(Orkes Madun I : 663-664)
Wacana tersebut merupakan wacana polilog, yakni
percakapan atau pembicaraan yang melibatkan lebih dari dua orang (tokoh)
sebagai partisipan pembicaraan. Tokoh Tarkeni mengadukan nasibnya kepada tokoh
Waska, karena ia dipukul oleh Madekur, suaminya, yang sedangkan dibakar rasa
cemburu. Kemudian Waska mencoba mendamaikan Tarkeni dan Mardekur sebagai
pasangan suami istri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar