Berkaitan dengan syarat-syarat terbentuknya
wacana, dapat kita tarik kesimpulan dari beberapa pengertian. Seperti Tarigan (2009:19) yang mengatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa
yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan
koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan
akhir yang nyata disampaikan secara lisan dan tertulis. Tarigan menyebutkan
“dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai
awal dan akhir” berarti dalam wacana haruslah ada koherensi dan kohesi dari
awal sampai akhir. Namun terbentuknya wacana tidak cukup hanya dengan hoherensi
dan kohesi.
Alwi,
dkk. (1998:419) yang mengatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang
berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain dan
membentuk kesatuan.
Kohesi dan koherensi juga merupakan syarat
terbentuknya suatu wacana selain syarat lain, yaitu topik. Koherensi tidak
harus selalu dicapai dengan bantuan kohesi (Alwi et.al. dalam Hartono, 2000:
144). Sedangkan menurut Widowson
(1978:22) wacana mempunyai
dua hal penting, yaitu proposisi (sejajar dengan topik) dan tindak tutur
(tuturan pengungkap topik).
Dari
beberapa pengertian tersebut didapatkan syarat terbentuknya wacana diantaranya
ialah :
1. Topik
Sebuah wacana mengungkapkan satu bahasan atau gagasan. Gagasan tersebut akan diurai, membentuk serangkaian
penjelasan tetapi tetap merujuk pada satu topik. Sehingga topik yang diangkat
atau yang dimaksud memberikan suatu tujuan. Tujuan-tujuan yang teradapat dalam
wacana, dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis wacana. Seperti wacana
persuasif, tujuannya untuk mempengaruhi pembaca. Atau bisa berupa simbol huruf
P pada rambu-rambu lalu lintas, memberikan tujuan menginformasikan pengguna
jalan, bahwa tempat bersimbol P, adalah tempat parkir.
2. Kohesi dan Koherensi
a.
Kohesi
Kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan
bentuk secara structural membentuk ikatan sintaktikal. Konsep kohesif
sebenarnya mengacu kepada hubungan bentuk. Artinya unsur-unsur wacana (kata
atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan
secara padu dan utuh. Hanya dengan hubungan kohesif seperti itulah suatu unsur
dalam wacana dapat di interpretasikan, sesuai dengan ketergantungannya dengan
unsur-unsur lainnya.
Kohesi wacana terbagi dalam dua aspek yaitu
kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal artinya kepaduan
bentuk sesuai dengan tata bahasa. Kohesi leksikal artinya kepaduan bentuk
sesuai dengan kata.
1.
Kohesi
gramatikal meliputi:
a)
Referensi (pengacuan), merupakan pengacuan
satuan lingual tertentu terhadap satuan lainnya. Di lihat dari acuannya,
referensi terbagi atas:
-
Referensi eksofora yaitu pengacuan satuan
lingual yang berada di luar teks wacana. Contoh: Itu matahari, kata itu pada
tuturan tersebut mengacu pada sesuatu di luar teks, yaitu “benda berpijar yang
menerangi alam ini”.
-
Referensi endofora yaitu pengacuan satuan lingual
yang berada di dalam teks wacana. Referensi endofora terbagi atas:
§ Referensi
anaphora yaitu pengacuan satual lingual yang disebutkan terlebih dahulu,
mengacu yang sebelah kiri.
§ Referensi
katafora yaitu pengacuan satuan lingual yang disebutkan setelahnya, mengacu
yang sebelah kanan.
b)
Substitusi ( penggantian), diartikan sebagai
penggantian satuan lingual dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Substitusi dilihat
dari satuan lingualnya dapat dibedakan atas:
1)
Substitusi nominal yaitu penggantian satuan
lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata benda. Contoh: Memang Soni
mencintai gadis itu. Wanita itu berasal dari Surakarta. Pacarnya itu memang
cantik, halus budi bahasanya, dan bersifat keibuan.
2)
Substitusi verbal yaitu penggantian satuan
lingual dengan satuan lingual lain yang berupa kata kerja. Contoh: Soni
berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke dokter kemarin sore.
Ternyata dia di vonis menderita penyakit kanker. Selain berusaha ke dokter, dia
juga tidak lupa berdoa dan selalu berikhtiar pada allah.
3)
Substitusi frasa yaitu penggantisn satuan
lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa frasa. Contoh: Hari ini
hari minggu. Mumpung hari libur aku manfaatkan saja untuk menengok Nenek di
desa.
4)
Substitusi klausal yaitu penggantian satuan
lingual tertentu dengan satuan lingual lain yang berupa klausa. Contoh:
Nida :
jika perubahan yang dialami oleh azam tidak bisa diterima dengan baik oleh
orang-orang di sekitarnya, mungkin hal itu dikarenakan oleh kenyataan bahwa
orang –orang tesebut banyak yang tidak sukses seperti azam.
Barik :
tampaknya memang begitu!
c)
Elipsis atau pelesapan, adalah pelesapan satuan
lingual tertentu yang sudah disebutkan sebelumnya. Contoh: Tuhan selalu
memberikan kekuatan, ketenangan, ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan
dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih. Kalimat kedua yang berbunyi terima
kasih merupakan elipsis. Unsur yang hilang adalah subjek dan predikat. Kalimat
tersebut selengkapnya berbunyi: Tuhan selalu memberikan kekuatan, ketenangan,
ketika saya menghadapi saat-saat yang menentukan dalam penyusunan skripsi ini.
Saya mengucapkan terima kasih.
d)
Konjungsi (perangkaian), adalah kohesi
gramatikal yang dilakukan dengan menghubungkan unsure yang satu dengan unsure
yang lain. Unsur yang dirangkai berupa kata, frasa, klausa, dan paragraf.
Macam-macam konjungsi sebagai berikut:
-
Sebab-akibat. Konjungsi yang digunakan antara
lain: karena, sebab, makanya, sehingga, oleh karena itu, dengan demikian dan
sebagainya.
-
Pertentangan. Konjungsi yang digunakan yaitu
tetapi dan namun.
-
Kelebihan atau
eksesif ditandai dengan konjungsi malah.
-
Perkecualian atau eksepsif ditandai dengan
konjungsi kecuali.
-
Tujuan. Konjungsi yang digunakan yaitu: agar
dan sehingga.
-
Penambahan atau aditif. Konjungsi yang
digunakan yaitu: dan, juga, serta, selain itu.
-
Pilihan atau alternative. Konjungsi yang
digunakan yaitu atau dan apa.
-
Harapan atau optatif. Konjungsi yang digunakan
yaitu semoga, moga-moga.
-
Urutan atau sekuential. Konjungsi yang
digunakan yaitu setelah itu, lalu, kemudian, terus, mula-mula.
-
Syarat. Konjungsi
yang digunakan yaitu: apabila dan jika.
-
Cara. Konjungsi
yang digunakan yaitu: dengan cara.
2.
Kohesi leksikal yaitu perpaduan bentuk dalam
struktur kata. Kohesi leksikal meliputi:
a)
Pengulangan atau repetisi
Repetisi merupakan salah satu cara untuk
mempertahankan hubungan konsesif antar kalimat. Hubungan ini dibentuk dengan
mengulang satuan lingual.
Contoh: Berfilsafat didorong untuk mengetahui
apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Berfilsafat berarti
berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan
yang seakan tidak terbatas ini.
b)
Sinonimi
Contoh: Hari pahlawan diperingati tiap 10
November. Mereka adalah pejuang bangsa yang rela mengorbankan jiwa raga demi
kesatuan Negara Republik Indonesia. Jasa mereka selalu dikenang sepanjang masa.
c)
Antonim
Contoh: Dalam rangka menyambut peringatan
kemerdekaan Republic Indonesia, warga setempat mengadakan kerja bakti. Bagi
yang putri sebagian besar membawa sapu,
sedangkan yang putra membawa sabit. Tak ketinggalan pula nenek maupun kakek
ikut serta meramaikan peringatan tersebut.
d)
Hiponim
Contoh: Setiap hari Anita menyiram bunga di
taman. Bermacam-macam bunga diantaranya mawar, melati, dahlia, dan anggrek.
e)
Kolokasi
Contoh: Bermula dari goresan bolpoin pada
selembar kertas namanya sekarang tenar. Dari lembaran-lembaran kertas tersebut
di gabung dalam satu buku. Buku tersebut menjadi perbincangan banyak orang
karena banyak dimuat dalam majalah, koran, televisi. Berkat media massa,
namanya menjadi terkenal.
f)
Ekuivalensi
Contoh: Setiap hari aku belajar dengan rajin.
Bu Narti sebagai guruku selain
mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, beliau juga
mengajarkan pendidikan moral.
b.
Koherensi
Koherensi merupakan keterkaitan antara bagian
yang satu dengan bagian yang lainnya sehingga kalimat tersebut mempunyai
kesatuan makna yang utuh (Amir Purba: 2007:
http://dictum4magz.wordpress.com)
Yang termasuk unsur-unsur koherensi meliputi:
1)
Penambahan, yang berupa: dan, juga, lagi pula,
selanjutnya, dll.
2)
Repetisi
atau pengulangan
3)
Pronomina
4)
Sinonimi
5)
Totalitas Bagian
6)
Komparasi atau perbandingan. Komparasi
digunakan untuk membandingkan dua hal yang berbeda.
7)
Penekanan, penekanan digunakan untuk menekankan
yang dianggap penting.
8)
Kontras
9)
Simpulan, dengan kata-kata yang mengacu kepada
hasil atau simpulan pun, kita dapat juga meningkatkan kekoherensifan wacana.
Penggunaan sarana seperti itu dapat dilihat pada contoh berikut ini.
10)
Contoh,
dengan pemberian contoh yang tepat dan serasi, kita dapat pula menciptakan
kekoherensifan wacana.
11)
Paralelisme atau kesejajaran. Kesejajaran bisa
berupa subjek predikat, subjek predikat objek, atau yang lain.
12)
Waktu
3. Proporsional
Prosorsional yang dimaksud ialah keseimbangan dalam makna yang ingin
dijabarkan dalam wacana, atau makna yang terdapat dalam wacana, ialah seimbang.
Misalnya apabila sebuah wacana persuasif, wacana yang mempengaruhi pembaca
untuk membeli suatu produk, maka dalam wacana tersebut harus terdapat
kesinambungan yang tepat antara paragraf yang satu dengan yang lain. apabila
paragraf pertama terdapat beberapa tuturan yang mempengaruhi pembaca dengan
satu topik, maka paragraf kedua juga harus tetap meruju pada satu topik dan
dimungkinkan lebih merujuk pada hal yang khusus. Sehingga antara paragraf yang
satu dengan yang lain padu dan tidak membingungkn pembaca.
4. Tuturan
Tuturan yang
dimaksud adalah pengungkapan suatu topik yang ada dalam wacana. Baik tutur
tulis atau tutur lisan. tuturan kaitannya menjelaskan suatu topik yang terdapat
dalam wacana dengan tetap adanya kohesi dan koherensi yang proporsional di
dalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar