Dalam sperber (2009:195) ia mnengatakan bahwa
“disarankan bahwa konteks yang dipakai untuk memproses asumsi baru merupakan
sub-susunan asumsi lama, yakni, dengan apa asumsi baru digabung untuk
menghasilkan berbagai pengaruh kontekstual.” Dari kutipan tersebut, dapat ditarik
kesimpulan bahwa konteks didapatkan dengan mengetahui asumsi sebelumnya yang
diproses terlebih dahulu oleh mitra tutur dan digunakan untuk menghasilkan asumsi
baru oleh mitra tutur. Dengan demikian, perlu kita pelajari tentang
praanggapan, implikatur, inferen dan dieksis dalam kaitannya memproses asumsi
lama menjadi asumsi baru.
A. PRAANGGAPAN
(Presupposisi)
Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to
pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to
suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum
pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya
tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.
Menurut
George Yule (1996:43) Presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur
sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan, yang memiliki presupposisi
adalah penutur, bukan kalimat.
Menurut Filmore (1981), dalam setiap percakapan selalu digunakan
tingkatan-tingkatan komunikasi yang implisit atau praaggapan dan eksplisit dan
ilokusi. Sebagai contoh, ujaran dapat dinilai tidak tidak relevan atau salah
bukan hanya dilihat dari segi cara pengungkapan pistiwa yang salah
pendeskripsiannya, tetapi juga pada cara membuat peranggapan yang salah.
Dari
beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan
adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa
yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal
ini, perhatikan contoh berikut :
(1) a:“Aku
sudah membeli bukunya Pak Udin kemarin”
b : “Dapat potongan 30 persen kan?
b : “Dapat potongan 30 persen kan?
Contoh percakapan di atas
menunjukkan bahwa sebelum bertutur (1A) memiliki praanggapan bahwa B mengetahui
maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo.
B. IMPLIKATUR
(Brown dan Yule 1983:1). Makna tersirat (implied meaning)
atau implikatur adalah makna atau pesan yang tersirat dalam ungkapan lisan dan
atau wacana tulis. Kata lain implikatur adalah ungkapan secara tidak langsung
yakni makna ungkapan tidak tercermin dalam kosa kata secara literal.
Sperber dan wilon (2009:283) berpendapat “sebuah implikatur adalah asumsi atau implikasi
kontekstual di mana seorang penutur, karena ingin agar ucapannya relevan,
berniat untuk menghadirkannya kepada pendengar. Jadi implikatur digali dengan
merujuk pada pengaharapan yang diekspresikan penutur.
C. INFERENSI
Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks
penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur.
Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan
oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).
Menurut Gumperz (1982) Inferensi yaitu penarikan kesimpulan sebagai proses
interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks percakapan. dengan
demikian pendengar menduga kemauan penutur, dan dengan itu pula pendengar
meresponsnya. Dengan begitu inferensi percakapan tidak hanya ditentukan oleh
kata-kata pendukung ujaran itu saja, melainkan juga didukung oleh konteks dan
situasi. Sebuah gagasan yang terdapat dalam otak penutur direlisasikan dalam
bentuk kalimat-kalimat. Jika penutur tidak pandai dalam menyusun kalimat maka
akan terjadi kesalahpahaman.
D. DIEKSIS
Deiksis berasal dari kata Yunani kuno yang berarti “menunjukkan
atau menunjuk”. Dengan kata lain informasi kontekstual secara leksikal maupun
gramatikal yang menunjuk pada hal tertentu baik benda, tempat, ataupun waktu
itulah yang disebut dengan deiksis. Deiksis adalah kata atau frasa yang
menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan
diberikan(Agustina, 1995:40). Sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila
referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang
menjadi sipembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.
Perhatikan contoh kalimat berikut.
(a) Begitulah isi sms yang
dikirimkannya padaku dua hari yang lalu.
(b) Hari inibayar, besok
gratis.
(c) Jika Anda berkenan, di tempat ini Anda dapat
menunggu saya dua jam lagi.
Dari contoh di atas, kata-kata yang dicetak miring dikategorikan
sebagai dieksis.Pada kalimat (a) yang dimaksud dengan begitulah tidak bisa
diketahui karena uraian berikutnya tidak dijelaskan.Pada kalimat (b) kapan yang
dimaksud dengan hari ini dan besok juga tidak jelas, karena kalimat itu
terpampang setiap hari di sebuah kafetaria.Pada kalimat (b) kata Anda tidak
jelas rujukannya, apakah seorang wanita atau pria, begitu juga frasa di tempat
ini lokasinya tidak jelas.
v Jenis-jenis Deiksis
Dalam kajian
pragmatik, deiksis dapat dibagi menjadi jenis-jenis seperti diuraikan berikut
ini.
1) Deiksis Orang
Dalam kategori
deiksis orang, yang menjadi kriteria adalah peran pemeran serta dalam peristiwa
berbahasa tersebut (Nababan, 1987:41). Bahasa Indonesia mengenal pembagian kata
ganti orang menjadi tiga yaitu, kata ganti orang pertama,orang kedua, dan orang
ketiga. Dalam sistem ini, orang pertama ialah kategori rujukan pembicara
kepada dirinya sendiri, seperti saya, aku, kami, dan kita.Orang kedua adalah
kategori rujukan kepada seseorang (atau lebih) pendengar atau siapa yang dituju
dalam pembicaraan, seperti kamu, engkau, anda, dan kalian. Orang ketiga adalah
kategori rujukan kepada orang yang bukan pembicara dan bukan pula pendengar, seperti
dia, ia, beliau, -nya, dan mereka. Contoh :
(a) Mengapa
hanya saya yang diberi tugas berat seperti ini?
(b) Saya
melihat mereka di pasar kemarin.
Kata-kata yang
dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari
kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam dieksis orang. Contoh kata
seperti itu dipakai dalam percakapan sebagai pengganti atau rujukan dari yang
dimaksud dalam suatu peristiwa berbahasa.
2) Dieksis Tempat
Dieksis tempat
adalah pemberian bentuk kepada lokasi ruang atau tempat yang dipandang dari
lokasi pemeran serta dalam peristiwa berbahasa itu. Dalam berbahasa, orang akan
membedakan antara di sini, di situ dan di sana. Hal ini dikarenakan disini
lokasinya dekat dengan si pembicara, di situ lokasinya tidak dekat pembicara,
sedangkan di sana lokasinya tidak dekat dari si pembicara dan tidak pula dekat
dari pendengar. Contoh :
(a) Tempat itu
terlalu jauh baginya, meskipun bagimu tidak.
(b) Duduklah
bersamaku di sini.
Kata-kata yang
dicetak miring seperti contoh-contoh tersebut di atas adalah contoh dari
kata-kata yang digunakan sebagai penunjuk dalam deiksis tempat.
3) Deiksis Waktu
Deiksis waktu
adalah pengungkapan atau pemberian bentuk kepada titik atau jarak waktu yang
dipandang dari waktu sesuatu ungkapan dibuat.Contoh deiksis waktu adalah kemarin,
lusa, besok, bulan ini, minggu ini, atau pada suatu hari. Contoh :
(a) Dalam
rangka menyambut hari raya Idul Fitri, yang bernama Fitri dapat makan gratis besok.
(tulisan di sebuah restoran)
(b) Gaji bulan
ini tidak seberapa yang diterimanya.
(c) Saya tidak
dapat menolong Anda sekarang ini.
4) Deiksis Wacana
Deiksis wacana
adalah rujukan kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan
atau yang sedang dikembangkan. Deiksis wacana ditunjukkan oleh anafora dan
katafora.Sebuah rujukan dikatakan bersifat anafora apabila perujukan atau
penggantinya merujuk kepada hal yang sudah disebutkan.Senada dengan hal itu,
anafora adalah hal atau fungsi yang menunjuk kembali kepada sesuatu yang telah
disebutkan sebelumnya dalam kalimat atau wacana. Contoh :
(a) Wati belum
mendapatkan pekerjaan, padahal dia sudah diwisuda dua tahun yang lalu.
(b) Joni baru
saja membeli mobil BMW. Warnanya merah dan harganya jangan ditanya.
Sebuah rujukan
atau referen dikatakan bersifat katafora jika rujukannya menunjuk kepada hal
yang akan. Contoh kalimat yang bersifat katafora dapat dilihat dalam kalimat
berikut.
(a) Di sini,
digubuk tua ini mayat itu ditemukan.
(b) Setelah dia
masuk, langsung Toni memeluk adiknya.
5) Deiksis Sosial
Deiksis sosial
adalah mengungkapkan atau menunjukkan perbedaan ciri sosial antara pembicara
dan lawan bicara atau penulis dan pembaca dengan topik atau rujukan yang
dimaksud dalam pembicaraan itu.Contoh deiksis sosial misalnya penggunaan kata
mati, meninggal, wafat dan mangkat untuk menyatakan keadaan meninggal
dunia.Masing-masing kata tersebut berbeda pemakaiannya. Begitu juga penggantian
kata pelacur dengan tunasusila, kata gelandangan dengan tunawisma, yang
kesemuanya dalam tata bahasa disebut eufemisme (pemakaian kata halus).Selain
itu, deiksis sosial juga ditunjukkan oleh sistem honorifiks (sopan santun
berbahasa). Misalnya penyebutan pronomina persona (kata ganti orang), seperti
kau, kamu, dia, dan mereka, serta penggunaan sistem sapaan dan penggunaan
gelar.Contoh pemakaian deiksis sosial adalah pada kalimat berikut.
(a) Apakah saya
bisa menemui Bapak hari ini?
(b)
Saya harap Pak Haji berkenan memenuhi undangan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar